Bicara Merdeka Seorang Guru Tua
Oleh: Dato’ Dr. Siddiq Fadzil
Lima dasawarsa yang lalu,
Aku, anak desa yang dungu serba tak tahu,
Hanya ikut-ikutan melulu,
Memekik “Merdeka! Hidup Tunku!” bertalu-talu.
Hingga tiba ketika aku berani bertanya,
Ruh dan makna sepatah kata,
Meminta bukti nyata sebuah cerita,
“Merdeka.”
Kutadah segala madah,
Kuperah khazanah hikmah,
Kutemukan daulat karamah insaniyah,
Mulia perkasa dengan al-‘izzah.
Merdeka siapa cuma mengenyah penjajah,
Merdekaku meraih ‘izzah,
Deklarasi syahadah: la ilaha illaLlah,
Menyanggah berhala seribu wajah,
Mengenyah segala bedebah penjajah, penjarah, penjenayah.
Kubongkar pendaman fakta,
Kubuka kitab pusaka,
Terserlah deretan nama,
Wira merdeka bukan Tunku sahaja,
Ramai yang mendahuluinya.
Mendadak aku bertanya,
Sejarah bikinan siapa?
Merdekakah kita,
Julingkah mata sarjana,
Apabila tidak bersuara,
Tentang pahlawan yang tak dikenang,
Tentang wira tak yang didendang?
Lima dasawarsa lamanya,
Banyak kata belum terkota,
Banyak lagi rupa tak seindah berita.
Bagi generasi yang semakin tak mengerti,
Kata merdeka bak mantra yang hilang sakti,
Dan mereka semakin tak peduli.
Jiwa merdeka sirna ditelan pesta,
Matilah rasa hilanglah peka,
Betapapun gegak gempitanya,
Pekikan “Merdeka! Merdeka! Merdeka!”
Tetapi semerta terbelalak mata,
Bila setan korupsi menggoda,
“Mau duit ka? Mau duit ka? Mau duit ka?”
Gejala pesona yang kian menggila,
Menginjak taqwa menganjak jiwa,
Merdeka dengan Ketuhanan Yang Maha Esa,
Menjadi hamba kewangan yang “maha berkuasa.”
Pada Hari Merdeka yang ceria,
Kusimpan tangis di balik tawa,
Kupendam cemas di tengah pesta,
Akan terjualkah merdeka kita?




